Ordinary Me

‘writting nonsense just to keep sane’

dedicated to someone July 7, 2009

Filed under: celoteh gak jelas — hawe69 @ 9:02 AM

*WARNING!! POSTING CURHAT YANG AJUBILE PANJANGNYA, TENTANG SEKELUMIT MASA LALU SANG PENULIS * 

Sepertinya gw sudah perlu membuang memori masa lalu ini, dengan cara menulisnya.

Menulis ternyata bisa membuat lega, plong…… seperti terapi saja, bukan seperti makan permen mint ituhhh lho.. hehehe

Dan setelah ini, gw berharap tidak ada lagi ‘pemborosan waktu’ untuk kilas balik ke masa lalu, yang sepertinya cuma akan membuat gw ‘mundur’ saja dari kenyataan.

 Seperti kata orang bijak:
There are three reasons why people cannot cope with his/her life:

  • Always live in the past
  • Low self esteem
  • Cannot laugh at their own mistakes
  • Bermula dari gw masih SMP, giat main sepatu roda di GM setiap wiken. Gw bertemu dia, sebut saja namanya Joe. Sebenarnya dari awal gw suka ama temannya, Harry, bukan dia. Gak ingat bagaimana, ternyata Harry akhirnya jadian dengan teman gw, instead of me, dan gw end up berteman dengan Joe.

     

     Joe tau kalo gw ‘agak’ patah hati karena Harry lebih memilih teman gw, dan dia berusaha jadi temen yang baik. Kita bersahabat, sering ngobrol dan  my first bad impresión  tentang dia lama-lama berubah.

     

     Joe tidak ganteng, tidak tinggi gagah seperti Harry, tidak pintar, dia bandel, suka berantem, suka bolos sekolah. Tapi semakin gw kenal dia, ternyata , dia sensitif, setia kawan, hidup apa adanya dan tulus.

     

    Joe suka olahraga. Dia main tennis, rutin. Rajin lari pagi dan rajin ngajak gw untuk ikut rutinitas hidup sehatnya. Tapi berhubung dia harus bolak-balik jemput antar gw subuh-subuh, gw agak tak enak hati untuk selalu mengiyakan ajakannya. Dia juga pernah minta tolong untuk diajarkan accounting tiap wiken, les privat gratis maksudnya. Kebetulan biarpun gw masih SMP tapi sudah pegang sertifikat level dasar untuk accounting. Dia ngaku kalau dia bodoh untuk soal accouting, matematik, dan tetek bengek itu dan salut kalo gw sudah bisa lulus dari ujian accounting dasar.

     

    And I, slowly but sure, falled in love with him.

     

    Waktu itu, gw benar-benar cuma anak abg biasa yang pemalu, dan Joe sepertinya berada satu level di atas gw. Dia anak orang berada, sekolah sudah bawa mobil sendiri, dimana gw masih mengandalkan kaki atau naik bis. Rumah di komplek elite, dengan ocean-view, sedangkan gw, di rumah tua lingkungan biasa.

    Dia tidak sombong, hanya saja, kita beda sekolah, beda level pergaulan. Sering gw jalan barang teman-teman se-gank-sekolahannya, and I always felt out of place.

     

    And I, slowly but sure, withdrawed myself from him.

    Ya, salahkan sifat minder gw saat itu. Bodohnya gw untuk menilai rendah diri sendiri.

     

    Setelah gw tamat SMP, gw berusaha untuk daftar di sekolah Joe, tapi destiny said “No Way”. Saat itu, gw tau, Joe punya pacar di sekolahannya. Gw tau juga pas dia lagi ribut dengan pacarnya, saat dia putus, karena dia mencari gw untuk curhat, tuker pikiran dari girl’s point of view, just spend easy time together.

    Gw ingat, pernah ngerayain ultah dia yang ke 19th, a very special moment indeed. Cuma teman-teman dekat saja yang ikut, dan saat itu, terlihat kita berpasang-pasangan. Ge-er berat rasanya, but.. we were still just friend and he had no idea that time, that I had a big crush on him. Saat itu, gak mau ngerusak persahabatan, karena deep down, gw gak yakin kalo he felt the same way with mine.

     

    Akhir tahun itu, Joe bilang kalau dia akan berangkat ke USA untuk nerusin kuliahnya.

    And my heart broked into pieces. I definitely would not saw him again! Out of desperation, I needed to let him knew how I felt, how I loved him, tapi nyali kecut, gak berani menyatakan langsung.

    Makanya, gw mencoba cara lain, yaitu menyuruh teman gw, yang dulu jadian dengan Harry, untuk mengorek isi hati Joe sebenarnya terhadap gw.

     

    And that’s when he saying goodbye.

     

    Dia tidak lagi telpon ataupun mau terima telpon gw sesudahnya. Gw udah pasrah. Menurut teman gw, ketika ditanya, apakah Joe punya perasaan lain terhadap gw, selain berteman, Joe sempat diam panjang. Teman gw akhirnya memberitahu, kalau gw ada ‘rasa’ lain terhadapnya. Dan saat itu, menurut teman gw, Joe cuma bilang, iya, dulu dia pernah ada perasaan lain terhadap gw, tapi setelah lama berteman, gw sudah dianggap jadi sahabatnya. Dia suka bertukar pikiran dengan gw, sebagai sahabat, karena menjadi sahabat itu akan selamanya, sedangkan kalau kita pacaran mungkin kita akan berubah dan tidak akan lagi seperti sahabat.

     

    I’ve had lost his friendship.

     

    Dia tidak memberitahukan keberangkatannya. Tapi, terjadi keajaibaan kecil. Secara tidak sengaja, gw mendapatkan informasi pesawat yang dia booking, lengkap dengan tanggal keberangkatannya.

     

    And I never learned to say goodbye to him, totally. Never loved anyone else, never thought that anyone would be better than him, I was so naive.

    Gw terobsesi berat dengan yang namanya Joe. It’s the hardest moment of my life, to love someone with no hope, no expectation, just love him simply of him. He became my obsession for a long time. Sampai pada titik dimana gw berpikir, I would not married to anyone because there’s no love left of me.. silly thought!

     

    Selama di State sana, dia sempat mengirimkan foto-foto, surat, (saat itu, belum booming yang namanya email atau chatting..haha) dan sepertinya lupa dengan kejadian tidak mengenakan tahun sebelumnya. Karenanya, gw juga tidak mau lagi mengungkit-ungkit hal tersebut. We were back as friend, walaupun sudah tidak sedekat dulu lagi. Kian lama, surat mulai menghilang, dan gw sudah terlupakan.

     

    It has took me another five years to decide to move on. Somehow, I thought, I have gotten over him, even I’ve never had the same butterfly-feeling in my stomach again from any of my later relationship.

     

    Beberapa tahun kemudian, sekitar awal 2002, bertepatan dengan Imlek, dia kembali ke Jakarta. Gw ingat banget, saat dia telpon ke rumah, gw gak percaya kalau benar Joe yang bicara. Gw berpikir pasti ada yang ngerjain gw nih, ngaku sebagai Joe. Kita bertemu, dan he has changed alot, he was glowing, became the most charming confident man.

    Dan, sayangnya, dia bilang, gw gak berubah sama sekali! Dia bilang berencana untuk pindah ke Thailand saat itu, mengerjakan bisnis dengan temannya.

     

    So, he was wayyyy out of my league even years to come.

     

    Dan baru sekarang, 2009, setelah bertemu di Facebook, gw tau, ternyata dia menemukan calon istrinya sewaktu di State sana. Dia menikah, dan punya seorang putri yang cantik, mengelola sebuah penginapan dan restoran bersama istrinya. Teman bisnis yang dia maksud saat bertemu bertahun lalu ternyata adalah istrinya. It’s a perfect love.

    Hm, that’s why he was glowing when we met years ago, because he is in love!

     

    Gw sudah tertinggal jauh.

    I don’t know anything about him now. He’s out of my life.

     

    Dari pengalaman ini, gw belajar untuk selalu ungkapin kalau seseorang itu special buat kita, apapun konsekuensinya, agar tidak menyesal di kemudian hari.

     

    Gw juga belajar kalau cinta itu banyak bentuknya.

    Apapun bentuk perasaan gw sekarang untuk seorang Joe, dia hanya sosok masa lalu, dan tidak akan mungkin menjadi orang di masa depan gw.

    Karena, masa depan gw sudah full-booked untuk seorang suami yang nyebelin, tapi sering bikin hati terharu, dan seorang bocah bandel, yang manggil gw ‘Mama’.

     

    Minggu ini Joe di Jakarta dan akan ke Bali, berlibur bersama keluarganya.

     

    Dan, gw terlalu kuatir dengan perasaan gw sendiri apabila bertemu dengannya, sehingga menulis hal beginian… hahahhaa….halah… lega deh..

     

    Now I can say:

    Joe, you WERE special to me, you ARE special to me, but my life no longer has you inside it.

    I have moved on, dear, and so did you.

     

     

    Advertisements
     

    10 Responses to “dedicated to someone”

    1. hawe69 Says:

      PLONGGGGGGG !!!!!

    2. heeeem…
      tau bgt rasanya mencintai sebesar itu.
      dan pernah ada di posisi itu.
      setelah setahun dipendah gue memilih open
      ternyata gayung bersambut 🙂 walopun hub itu mesti berakhir tragis.

      anw…. nulis itu terapi yg bagus mbak 😉
      nanti pas dibaca2 ulang jadi ketawa deh.

      Faith just not that in to both of you…
      aiih bingung mo komen apa, personal bgt siy ya :p
      takut salah ngomong gue hehehe

      tragis gimana Ka..? pernah cerita tentang itu di ceritaeka?
      Ya, semoga someday I can laugh about this.. 🙂

    3. Eru Says:

      Hmm…
      bingung juga mo comment apa 😕

      But *hi-five* soal 5 years nya

      Anyway,

      Every love feeling have some reason, entah a reason to get another friend or lover, but yeah love has many ways to express and many taste to swallow… Agree

      And every sadness will over, entah over diganti sama kebahagiaan ato sadness season-2 wkwkw 😀

      Moving on, to another “season” in a series named LIFE

      * ngeloyor *

      Agreeeee…
      untungnya gw udah di Season Terakhir.. semoga udah gak ada season-season lagi deh.. haha..
      emang Cinta Fitri yang gak habis-habis tuh seasonnya..hehehe

    4. Wolfgang Xemandros Says:

      wew.. sempat terbawa dengan tulisan anda.

      terbawa kemana ? hayoooo 🙂

    5. frozzy Says:

      setuju sama eda eka….menulis itu salah satu terapi yang baik…. saya masih suka2 membuka2 folder lama yang berisi tulisan2 ketika melalui masa2 sulit… beberapa membuat saya malu, beberapa yg lainnya membuat saya nyengir sendiri, menyadari kekonyolan saya saat itu….
      tetap smangat mba….

      hi Frozzy, tks for the support..semangat! 😀

    6. sheilajrina Says:

      kalo aku kbalikannya
      i’ve told that i like him so. tapi si cowo malah jd ngejauh dan jaim”an deh skarang. hha
      yaa biasalah abg stories . aw 😀

      abg yah?…hahha..gw berasa udah jadul banget deh…

    7. he’s out of my life
      he’s out of my life
      And I don’t know whether to laugh or cry
      I don’t know whether to live or die
      And it cuts like a knife
      he’s out of my life

      So I’ve learned that love’s Not Possession
      And I’ve learned that love won’t wait
      Now I’ve learned that love needs expression
      But I learned too late

      *inspire by josh Groban*
      Nothing is late, it just long process….
      Just let it go….

      yah.. this is nice song.. ah, jadi pengen nyetel CD Josh Groban.
      tks sista.. 🙂

    8. adipati kademangan Says:

      haaaa … kenapa dulu ndak sempat terucapkan ?

      dulu.. gak punya nyali..hihi

    9. p u a k™ Says:

      *melirik kanan kiri*
      *bisik2* aku juga menemukannya di facebook.. tapi ya sudahlah.. mau gimana lagi
      *plong* 😀

      ssstttt..
      😡
      yuk..nyanyi lagu GIGI bareng aja deh
      😉

    10. Indah Says:

      Iyaa, setujuu.. menulis itu emang terapi yang bagus buat jiwa, daripada dipendam aja bisa bikin gila lama2 karena kebanyakan muter2 dalam pikiran, ahahaha 😀

      we are in the same boat, sista
      🙂


    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s